Di sini boleh ngawur, ketawa, misuh, teriak dan sebagainya karena blog ini hanya TA-KAN-TAH. Takantah berarti tidak sungguhan, bisa fiktif belaka, namun blog ini nyata.
  • Maaf dan Terimakasih

    Kata "Maaf" dan "Terimakasih" bukan ungkapan basa-basi. Ia adalah kualitas kemanusiaanmu

  • Gak Usah Ember

    Ada banyak hal yang tidak perlu diumbar ke orang lain, biar kemesraan hanya milik kita. Sekalipun itu telah jadi kenangan.

  • Dua Tangan

    Jika ocehanmu tak bermutu, ngocehlah sama tanganku.

  • Terpisah Rak Buku

    Maka apa yang lebih mesra dari sepasang kekasih yang terpisah rak buku?.

Tuesday, August 30, 2016

Madura United FC Tim Kebanggaan Madura

Aku ada di antara skuad tim Madura United (MU) FC, jajaran official dan Pelatih.
Ini tim kebanggaan warga Madura.
Foto oleh Tabri
Lokasi di Lapangan Kusuma Agrowisata Batu
Diambil saat merayakan Ulang Tahun sang Kapten kesebelasan MU FC, Fabiano, yang ke34 tahun

>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Monday, August 29, 2016

Di Laundry Sempakku Tertukar

Sebelumnya saya biasa nyuci baju sendiri, selain karena yakin lebih bersih daripada dicucikan orang lain juga saya tidak ingin ngerepotin. Apalagi ngelaundry? Jelaslah saya menghindari. Mendengar pengakuanku ini, masihkah engkau wahai wanita tidak luluh hatimu untuk menerima saya jadi suamimu? Saya bisa nyuci lho.

Suatu hari cucianku numpuk serupa bukit. Sudah setengah bulan (halah, biasanya juga sebulanan) tidak sempat nyuci karena alasan disibukkan tugas kampus (preeet). Kan gila, 4 dosen sekaligus ngasih tugas dan harus disetor minggu yang sama. Mana lagi hujan terus menerus. Jika pun maksakan nyuci bisa bau apek tuh bajuku karena tidak kering sempurna. Ndilalah jadilah itu bukit kuserahkan ke laundry. Aku ingin bajuku harum dan nanti dilipat rapi. Tidak seperti biasanya baju setelah kuangkat dari jemuran kutaruh serampangan di kamar.

Namun sayang sungguh disayang pertama kali ngelaundry aku tertimpa musibah, semppakku tertukar. Warna sama coklat, merek juga sama yang biasa ada di alpamart, tapi ukurannya itu lho yang beda. Lebih melar, Bro. Ukuran punyaku M sedang tukarannya itu XL. 

Dan saat kupakai, alamak... nyaman pake banget nget ngeeet. Secara gitu dia bebas keliaran, oang-oeng kanan kiri, bebas berekspresi. Tidak terkekang seperti saat istananya berukuran M. Maka sejak saat itulah aku tersadar, ternyata ukuran sempakku memang seharusnya XL.

>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Sunday, August 28, 2016

Rujak Cobek Prenduan

Rujak Madura merupakan makanan khas. Makanan ini wajib ada di daftar makan favorit saya (dan Anda). Terdiri dari;

1. ketupat/lontong
2. sayuran; mentimun, kangkung, toge, tomat, atau kacang panjang. Di setiap daerah bisa berbeda jenis sayuran yang digunakan karena memiliki khas masing-masing.
3. tahu goreng
4. kerupuk/kepeng/krepik tette, dan 

5. menjadi khas utama rujak yaitu ulekan kacang + petis Madura.

6. Bisa ditambah cabe sesuai sensasi pedas yang diinginkan.

Pada umumnya rujak disajikan di piring, namun ada yang beda pada rujak khas Prenduan Sumenep. Berlokasi di pasar Prenduan, rujak khas ini dikenal dengan rujak cobek. 


Cobek (bahasa Madura) adalah wadah yang digunakan untuk ngulek bumbu rujak. Namun rujak cobek langsung disajikan di cobek itu sendiri.

Kuliner ini sebetulnya sudah diekspos beberapa media nasional sehingga dipastikan sudah tersebar penjuru negeri Indonesia. Saya menuliskan ini sebetulnya hanya ingin bilang saya juga sudah makan rujak cobek khas Prenduan. :-D

Lagian lokasinya tidak jauh dari kampungku kok. Jadi jika Anda ingin ke Prenduan untuk menikmati rujak cobek, bisa sekalian mampir ke kampung kelahiranku.

>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Menyambung Hidup Dengan ABC

Bagaimana saya tidak berterimakasih pada ABC, berkali-kali dia selamatkan kelangsungan hidupku. 
Saat perut mengalami paceklik; gersang dan tandus alias kelaparan, kebetulan dompet mengalami devisit untuk beli lauk seharga Rp. 7000 tidak cukup, saat itulah ABC datang menjadi penyelamat.

Pertama, ABC sambal extra pedas. Cukup dengan uang receh senilai Rp. 500 dapat satu saset. Berarti kalo seribu dapat dua. Kebetulan setelah melakukan pencarian harta karun di seluruh penjuru kamar, tas, baju, celana lemari, rak buku dan sebagainya, harta karun yang berhasil kukumpulkan uang senilai.... Seribu Lima Ratus Rupiah. Dengan uang itulah aku percaya diri menuju toko dan beli saos ABC Extra Pedas sebagai lauk untukku makan. Beruntung sekali di kamar ada stok beras, dan bersyukur PT. Hainz Abc Indonesia memproduksi saos saset ini sehingga hidupku masih bisa diselamatkan.


Kedua, lagi-lagi ABC jadi semacam malaikat tak bersayap menyelamatkan nyawaku dari ancaman demonstrasi anarkis perutku sendiri. Kali ini bukan saos tapi kecap. ABC kecap extra pedas. Ukuran lebih besar dari saos ABC. Cukup rogoh uang Rp. 12.000 dapat kecap ini untuk dua belas kali makan. Jadi misal aku konsisten sehari makan satu kali, maka dengan kecap ABC ini bisa hemat pengeluaran selama 12 hari. Lumayan kan? Selain itu, aku upayakan makanku lebih mewah dengan menambah krupuk. Berasa ini makanan paling istemewa karena ada tambahan krupuk. Rp. 2000 rupiah dapat satu bungkus berisi kurang lebih 10 biji krupuk. Bisa untuk lima hari.


Begitulah makanan khas Mahasiswa kere (baca; Aku) yang jauh dari keluarga. Terarkhir, aku bisa kuat, sehat karena aku diberi makan batu batre ABC...
>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Friday, August 26, 2016

NAMA YANG LANGKA


Entah dari mana kakekku dapat inspirasi menamaiku 'Muktir'. Orang-orang pada kesulitan melafalkannya. Sudah sangat sering mereka semena-mena mengganti namaku jadi Muftir, Mukhtir, Muhtir, Mukti, dan yang paling menjengkelkan jadi Muhotir. Ini sungguh tindakan kejam dan jahanam, tapi meski begitu mereka tetap kudoakan masuk surga bahkan jika perlu segera. 

Selain itu, sampai sekarang aku belum tahu arti Muktir. hahaha. Tanya ke dua orang tua, mereka gak bisa ngasih kepastian apa artinya. Mau tanya langsung ke kakek, beliau sudah lama meninggal dunia (alfaatihah). Jadilah sampai sekarang aku kebingungan jawab jika ditanya apa arti namaku.

Uniknya nih, tidak kutemukan nama yang persis sama dengan namaku. Sampai akhirnya aku lolos seleksi kampus di Guluk-Guluk dan gilanya, ada satu calon mahasiswa juga lolos seleksi di jurusan yang sama denganku dan dia memiliki nama terabsurd seantero jagad raya, yakni "MUKTIR". Melihat itu, aku tertawa sepuasnya sampai nangis (sudah lupakan, ini terlalu lebay). Bedanya namaku ada embelnya Muktir Rahman dan dia hanya Muktir. 

Muktir dan Muktir Rahman; sedang ngotak atik software terbaru


Lebihnya, dua Muktir ini hampir memiliki kesamaan saat kuliah, sama-sama lebih sering nongkrong di warnet kampus saat jam kuliah. Mungkin karena hal itulah dua mahluk spesisal ini bisa akrab 24 jam.


Pernah aku iseng searching di google dengan keyword namaku. Hasil yang muncul justru orang India, dan sepertinya dia tokoh apa gitu...




Dalam keadaan bagaimanapun, aku bangga dan senang memiliki nama Muktir untuk dan karena alasan yang tidak ingin kuceritakan... heu heu...



>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Sunday, July 3, 2016

Mudik Bersama Muktir Rahman (versi Umarul Faruq)


"Tir, gerimis" tegurku dari jok belakang motor Smash 110 cc yang melaju dengan kecepatan keong. Ini fakta! Surabaya kalau sudah macet memang sebelas duabelas sama Jakarta. Ratusan kendaraan berdesak-desakan berebut jalan, dari yang roda dua sampai yang roda enam, semua menunggu lampu hijau menyala.
"Lanjut?" tanyanya
"Lanjut!" jawabku singkat, "Kita istirahat habis jembatan Suramadu saja"
Ini adalah lampu merah terlama di Surabaya yang saya tahu. Di depan sana Jl. Kenjeran yang menuju jalan akses jembatan Suramadu sudah kelihatan, tetapi untuk sampai ke sana kok rasanya lama sekali. Aku yakin dalam kondisi seperti ini tak peduli mobil sport atau motor butut, semua sama seperti siput.
Gerimis semakin deras, dan tak lama kemudian sudah berubah menjadi hujan. Padahal kami masih di Jl. Kenjeran. Jika mau, kami bisa saja berhenti dan berteduh di sisi jalan menunggu hujan reda. Tetapi itu tidak kami lakukan. Sekalipun pakain sudah basah, tas ransel dan CPU terancam kemasukan air juga, kami nekat menerobos hujan yang semakin menjadi. Aku silangkan kedua tanganku di atas tas ransel yang aku pangku dengan maksud melindunginya dari tetes air hujan. Meski itu sama sekali tidak berguna.
"Beneran lanjut?" tanya Muktir memastikan
"Ayo, lanjut aja" mantap kujawab meski sebenarnya ada sedikit waswas dengan kondisi isi tas ransel dan CPU.
Mesin terus menderu. Sebentar lagi masuk jembatan Suramadu. Jalan yang tergenang air hujan menjadi licin dan menuntut semua pengendara menurunkan kecepatan. Tapi, sepertinya itu tidak berlaku bagi Muktir. Entah karena terburu-buru atau bagaimana, dia tetap menarik gas kencang. Dari balik kaca helm aku lihat di sekitar jembatan Suramadu yang biasanya terlihat pemandangan kota Surabaya, Bangkalan dan Selat Madura, kali ini tidak terlihat sama sekali. Yang terlihat hanya kabut tebal menghalangi pandangan. Bahkan, pandangan ke jalan di depan hanya sebatas belasan meter saja. Satu-satunya batas jalan yang terlihat jelas hanya pagar jembatan di sisi kanan dan kiri kami. Sementara garis marka hanya terlihat samar-samar, begitu pun nyala lampu belakang kendaraan di depan kami.
Sempat terpikir untuk mengabadikan momen ini dengan kamera. Momen yang betul-betul luar biasa, sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Masalahnya aku belum mau mengorbankan ponselku yang belum anti air, dan Muktir pun berpikiran sama. Segila-gilanya Muktir (dan aku tentunya) ternyata belum sepenuhnya kehilangan akal sehat. Aku bersyukur akan hal itu.
Setelah melewati jembatan, kami berteduh di sebuah musolla kecil di sisi kiri jalan. Bukan karena kapok kehujanan, tetapi karena kami belum shalat Ashar. Ada toilet yang cukup luas di belakang musolla tempat kami membersihkan diri (note: tidak barengan kok). Dengan celana dan baju yang masih basah kami shalat Zhuhur sekaligus Ashar secara jama' ta'khir. Ini adalah kali pertama aku shalat dengan pakaian basah kuyup. Serius! Ada sensai luar biasa yang aku rasakan.
Karena maghrib belum tiba, perjalanan kami lanjutkan. Waktu maghrib baru tiba saat kemi mendekati Tangkel. Kami buka puasa sekaligus shalat Maghrib dan Isyaa di sebuah rumah makan di Tangkel. Dan ini adalah kali kedua aku shalat dengan pakaian basah, meski tidak sebasah waktu di Suramadu. Tetes air hujan masih belum juga reda. Setelah Makan dan shalat, kami melanjutkan perjalan lagi menuju Sumenep.
Dari Bangkalan ke Kapedi, Sumenep kira-kira berjarak 140 km, kami tempuh dalam waktu 3 jam-an. Memang lebih lambat dari ekspektasi kami, tetapi kami punya alasan. Ya, hujan sepanjang perjalanan membuat kami tidak bisa melaju dengan kecepatan maksimal. Sepertinya hari ini hujan turun merata di seluruh pulau Madura.
Kami tiba di rumah Muktir, Kapedi sekitar jam 21.30. Tidak usah ditanya seperti apa kondisi kami ketika sampai, kami tidak sempat ngaca. Yang pasti malam itu saya menginap di rumah Muktir dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kedinginan. Segala posisi tidur sudah saya coba untuk menghangatkan badan; dari meringkuk, memeluk lutut, menutup kepala dengan bantal, hingga menyelipkan kedua tangan di sela paha, tapi tidak satupun yang benar-benar berhasil mengusir rasa dingin. Derita seorang jomblo emang menyakitkan, bro! Tapi, sejomblo-jomblonya kami, akal sehat masih tetap berlaku. Wanita tetap jauh lebih menarik daripada laki-laki. Kami tidur di kamar terpisah.Haha
But overall, I was very impressed with this trip. This is an amazing experience. I'll never forget it, Thank you so much, Muktir Rahman!

( sumber dari laman facebook Faruq )
>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Saturday, July 2, 2016

Mudik Bersama Umarul Faruq

Dia sahabatku. Memiliki minat hampir serupa pada komputer, software, komik, anima dan game. Selain itu, sepertinya kami tidak memiliki kemiripan.
Kami satu kelas di S1 dan lulus bersamaan. Selesai kuliah S1 dia merantau ke Bekasi sedang aku ke Malang. Kami sama-sama melanjutkan kuliah di jurusan yang sama. Meski jasad kami terpisah jarak ratusan kilo meter, tapi hati tetap dekat. Komunikasi selalu terjalin, dan hal yang menjaga komunikasi itu tentu saja komik, komputer dan kuliah. Tentang pacar? Sepertinya tidak pernah. Entahlah, aku lupa nanti kutanya Umarul Faruq apa pernah bahas pacar.
Kemarin sebelum berangkat mudik dari Bekasi, dia WA aku. Lantas aku minta dia untuk mampir ke tempatku dan mudik bareng naik motor.
Inilah mudik pertamaku bersama Faruq. Petualangan pun dimulai.
Motor smash 110cc berplat N telah kupersiapkan sebagai armada mudik kami. Barang bawaan; dua tas ransel ukuran sedang isi penuh, banner ukuran 12 x 9 meter pesanan Bapak untuk dibuat ngejemur jagung, dan CPU. Banner dan satu tas taruh depan, CPU di tengah dan satu tas lagi digendong Faruq. Kemudi aku yang pegang. Sudah siap, kami gooo.
Perjalanan sempat terhenti di Lawang karena hujan deras. Sedangkan kami tidak bawa jas hujan untuk melanjutkan perjalanan. Bukan perkara kami takut mencair karena terguyur hujan, tapi tas ransel milik Faruq tidak dilengkapi parasut anti air padahal di dalamnya ada laptop dan baju. Setelah melalui pertimbangan nekat, bahwa hujan hanya turun di daerah Lawang sedang kota berikutnya tidak, kami berasumsi jikapun baju basah nanti pasti kering di perjalanan. Kami pun lanjut, dan ternyata betul sesampainya di Pandaan terik matahari siang menghangatkan kami.
Namun sayang, cuaca cerah tidak berlaku di Surabaya. Tepatnya di daerah Kapasan sebelum Suramadu, yang terdapat rambu lalu lintas lampu merahnya 198 detik dan hijau 45 detik, rintik hujan mulai terasa. Hujan makin lebat saat memasuki jembatan Suramadu dan puncaknya di tengah jembatan hujan sangat deras disertai angin kencang. Kecepatan laju motor tetap kupertahankan di kisaran 80-100 km/jam meski jalan tidak begitu jelas dalam pandangan.
Tubuh kami basah kuyup. Tanganku mulai keriput. Faruq mengeluh pegal. Di musolla pinggir Tol Suramadu sisi Madura kami berteduh, sekalian salat jamak dzuhur dan asar. Kami salat dalam keadaan kuyup. Selesai salat, hujan belum reda namun kami lanjutkan perjalanan dan mampir di warung makan Gresik-Madura, di Tangkel Bangkalan. Di sanalah, dalam keadaan baju basah, kami berbuka puasa. Sekalian menjamak salat maghrib dan isak di musolla aset warung makan itu.

Petualangan berlanjut. Kami menerobos hujan dalam perjalanan Bangkalan-Sumenep di saat malam mulai menjelma. Sempat mampir sebentar untuk istirahat di pom bensin kota Sampang, kemudian lanjut jalan sampai Sumenep. Total 4 kali kami istirahat, sesuatu yang sebelumnya tidak kulakukan. Kami berangakat jam 14.00 dan sampainya di rumahku sekitar jam 21.27. Jadi perjalanan 240 KM yang biasanya bisa kutempuh dalam 6 jam, kali ini harus 8 jam. Aku dan Faruq langsung tepar di kamar. Tidak ada penyambutan kedatangan kami, sebab di rumah sedang kosong, entah orang orang pada ke mana.
Begitulah akhirnya, aku dan Faruq tertidur dalam keadaan menggigil. Demi kenyamanan bersama kami tidur di kamar berbeda, tersebab kami sama sama jomblo.

(bisa baca di postingan fb-ku)
>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Wednesday, June 22, 2016

Ketika Imam "Tarawih" Baca Surat-Surat Panjang


Ini cerita saya. Murni pengalaman pribadi. Bukan fiktif belaka.
Saat tarawih tadi, puasa malam ke 19, imam membaca Surah pendek setelah bacaan Al-Fatehah cukup panjang, kurang lebih dari 2 menit (entahlah aku kurang tahu pasti, yang jelas itu imam lama baca suratnya). Dan itu mampu bikin pikiranku melamunkan gebetan yang entah sekarang sudah punya kekasih atau masih, meminjam bahasa K. M. Faizi, tawar menawar asmara. Padahal sudah kulupakan, tapi dia muncul lagi dalam lamunan saat aku harusnya menyatukan pikiran ngadep Tuhan. Oleh karena demi menepis lamunan saat imam baca surah panjang, maka saya memperlama sujud dan baru berdiri nanti setelah kira kira bacaan Imam separuh bacaan.

Hasil gambar untuk Imam tarawih
>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Thursday, June 16, 2016

Ketika Anak TK Disuruh Tarawih.


Sehabis salat jamaah isyak di Masjid Al Falah, Malang, dari ujung belakang saf salat terdengar tangis sesenggukan anak kecil. Kejadiannya berlangsung tadi, malam puasa ke 11. Anak itu menangis cukup lama, hingga imam selesai bacaan doa sehabis dzikirnya anak itu masih menangis. Kali ini tangisnya tersengal-sengal seperti sesak nafas. Ada seorang bapak-bapak coba menenangkannya, namun percuma. Aku yang berada tepat di belakang imam dengan nerobos barisan jamaah coba menghampiri. Kutanya dia kenapa, dijawab tangis. Kugendong dia ke luar masjid dan coba menenangkannya, lalu terjadilah dialog mengejutkan;
Aku; ada apa, kok nangis?

Anak TK; (sambil terbata menahan tangis) aku disenggol Zafi. Dia bilang di masjid ga ada ayah. Aku cari ga ada, adanya di rumah. Aku ga mau salat tapi disuruh ayah ke masjid. Aku ga mau sendirian.
sumber: google
Rupanya anak itu sedang (mungkin) panas panasan dengan beberapa temannya. Temannya itu ke masjid bareng orang tua mereka, sedang si anak TK berangkat bareng kakaknya yang dua tahun lebih tua. Dia nangis, mungkin malu, karena tidak bisa mengelukan ayahnya sedang ikut jamaah tarawih.

Akhirnya anak itu kuantar ke rumah orang tuanya. Semoga saat nyampe rumah bapak dan ibunya tanya kenapa dia pulang dan si anak menjawab seperti yg dia ceriakan ke saya.
>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Tuesday, March 15, 2016

Saudara Ke Lima Bernama Faiz

Dia perempuan ketiga yang buat aku terkesan. Wajahnya cantik, hidungnya mancung, giginya sedikit bertaring menambah kesan cantik saat tersenyum dan menurutku dia 11/12 --meski suaranya sama sekali tak semerdu-- Avril Lavigne.
Sejak pertama kali kenal (tak kuingat kapan) banyak hal telah kami lalui bersama, pahit dan manisnya perjalanan kehidupan. Kami sering berbagi tawa dan tangis. Kami sering kompak dan tidak jarang pula berselisih. Sering bercanda sekaligus bertengkar hebat, bahkan aku pernah melemparkan belati ke arah wajahnya tapi untung meleset dan kalau sampai melukai wajahnya aku akan menyesal seumur hidup.
Aku memanggilnya Bhuk Faiz, saudara perempuan terunik. Sejak dulu dia lebih mirip laki-laki daripada kodrat sebagai perempuan seperti kebanyakan perempuan di kampung kami. Tidak suka make up terlebih pake lipstik, namun dIa berjilbab meski bukan jilbab bermodel mukena (yang katanya) syar’i. Waktu kanak hanya dia yang mampu memberikan pemandangan berbeda tentang perempuan, bahwa perempuan itu tidak melulu bermain boneka tapi juga perang-perangan, layangan, kelereng, panjat pohon dan sejenisnya. Saat di pondok ketika pentas drama atau teater dia selalu kebagian peran sebai lelaki. Bhuk Faaiz memang perempuan perkasa 
Sumber foto dari laman facebooknya
Karena keperkasaannya itulah tidak jarang dia berkelahi denganku. Sebetulnya belum ditentukan siapa yang lebih kuat di antara kami, karena perkelahian selalu dipaksa berakhir imbang oleh orang tua kami.
Ah, tapi sekarang dia sudah berkeluarga dan sejak berkeluarga tidak tampak lagi sifat maskulin padanya kecuali sebagai ibu rumah tangga yang perkasa. Mengurusi keluarga kecilnya.
Sebetulnya masih banyak yang ingin kutulis tentang KW-an Avril Lavigne ini, tapi jariku keburu kriting ngetik di hape.
Terakhir, jika aku ditanya siapa perempuan tercantik dan paling berkesan maka aku menjawab pertama Ummi, Kedua Bhuk Atiyah dan ketiga Bhuk Faaiz. Sampai sekarang belum ada perempuan yang lebih berkesan dibanding mereka.


>>=== Semoga Anda berkenan ===>>

Muktir Rahman

Muktir Rahman
Muktir adalah nama langka, tidak banyak yang memilikinya, di Negeri ini. Sulit diucapkan, sulit dihafal tapi tidak sulit dikenang.
TA KAN TAH. Powered by Blogger.

My Blog List

Labels