Sunday, January 17, 2016
Kata Maaf dan Terimakasih (dari sudut mataku)
Sunday, October 18, 2015
Masa Tua Rangga-Cinta Jadi Pencuci Motor?
Menjelang salat asar berjamaah. Sekitar jam 14.00 terbesit pikiran untuk service motor. Seketika itu aku bawa motor Suzuki Smash N 3414 HR ke bengkel. Bengkel terdekat dan menurutku pelayanan berkualitas ada di perempatan jalan Semanding desa Sumber Sekar, + 50 meter dari tempatku, Perum Permata Puncak Sengkaling (PPS).
Kasihan. Motor itu sudah lebih empat bulan tidak kuganti oil, tidak kumandikan dan kuservice. Cukup lama sampai kondisinya memprihatinkan. Aku dari lubuk hati paling dalam merasa kasihan pada motor yang selam ini menemaniku menempuh perjalan dari PPS ke kampus, dari Malang ke Surabaya bahkan dari Malang ke Madura dan sebaliknya. Banyak kisah yang telah kujalani bersama motor berwarna merah itu. Namun kasihan dia memiliki tuan sepertiku. Tidak berprikemotorankah aku?
Lebih dari itu, aku berusaha memperbaiki perlakuanku pada si motor. Kali ini, aku mengganti oil-nya, menservicenya, dan terakhir aku bawa ke tempat cuci motor. Motor super tangguh itu harus mandi biar tambah kece. Loh masak cuma tuannya yang kece dan motornya enggak?
Ada yang menarik. Sewaktu menyusuri jalan mencari tempat cuci motor yang sanggup memberikan pelayanan terbaik untuk si motor terbaik, aku tertarik lihat suatu tempat cuci motor. Bukan karena tempatnya bagus, mewah atau terdapat tanda pelayanan berkualitas modern. Bukan karena itu. Justru tempat ini tidak dilengkapi dengan peralatan modern seperti mesin cuci steam atau salju, tapi tidak terbilang kuno juga sebab di tempat ini ada mesin penyemprot air. Hanya penyemprot. Lalu apa yang menarik?
Nah, yang menarik perhatianku adalah pencuci motor. Jadi begini, sewaktu itu kebetulan sedang ada satu motor Vario 125 cc yang sedang dicuci. Hanya di tampai ini yang kubilang sepi, sebab di rental cuci yang lain setidaknya ada 3 motor plus mobil yang dicuci. Aku memaklumi hal ini, karena rental yang lain lebih menjanjikan pelayanan berkualitas modern. Si pemilik rental cuci motor adalah seorang kakek-nenek. Umur mereka sekitar 60-70 tahun. Mereka berdua lah yang mencuci motor para pengguna jasa. Kuperhatikan sekilas, cara kerga mereka cekatan, berintegritas dan (yang paling menarik perhatianku) mereka mesra.
Selayaknya sepasang kekasih dibakar asmara kakek-nenek ini mencuci motor dengan perasaan cinta. Pelan, lembut tapi bersih. Padahal ya, si Smash kotorannya tuh sampai berkarang, boleh dibilang “dekil of kuman”.
Tiba giliran si Smash mandi. Menurutku kakek-nenek akan mengrutu atau paling tidak menyindir si tuan Smash kenapa kotorannya samapai sebegitu memprihatinkannya. Eh, ternyata tiadak. Mereka tersenyum sebagaimana pada tuan motor Vario, senyum yang sama.
Selebihnya pasangan kekasih ini membersihkan si Smash seperti mereka sedang bermesraan. Saling cumbu rayu, saling gelitik, saling memadu kasih dan rindu. Wes, pokoknya joss lah. Kalau digambarkan, kemesraan kakek-nenek ini semesra Rangga dan Cinta di filem AADC. Oh, My Good!!! Jangan-jangan kakek-nenek ini adalah Rangga dan Cinta yang asli?
Kakek Rangga dan Nenek Cinta, aku penggemar kalian. Tanda tangannya dong, di body smash boleh. Cepet ya, soalnya aku buru-buru mau adzan asar.
Wednesday, October 14, 2015
Tahun Baru Islam Harus Bisa HIJRAH dan MOPE ON
Malang, 1 Muharrom 1437
Sunday, December 14, 2014
Makan Secukupnya Vs Makan Sepuasnya
Sunday, November 2, 2014
Kembali Merantau I
Empat tahun kepulanganku di Sumenep hampir membuat pudar keinginanku merantau kembali. Namun, dasar saja keinginan yang tertanam dalam diri, keinginan itu mulai tumbuh perlahan dan terus tumbuh lalu membuahkan takdir: keinginanku terpenuhi.
Tepatnya pada tanggal 5 Agustus 2014, aku menginjakkan kaki di kota yang sebelumnya tak masuk daftar untukku mengadu nasib di sana. Kota Jakarta, Yogya atau Semarang yang jadi tujuanku malah belum pernah kudatangi. Takdir yang tak bisa disangka; aku mendarat di Malang, kota yang...... (terlalu dini memberi deskripsi kota ini :-) ).
Satu alasan kuat yang membuatku sampai dan akan tinggal di Malang dalam waktu cukup lama adalah sama dengan alasanku tinggal di Surabaya, yakni; kuliyah. Jika di Surabaya aku menempuh pendidikan D1 Teknisi komputer, di Malang lain lagi. Aku sedang menempuh pendidikan S2 Ekonomi Syariah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Sampai tulisan ini buat, aku berada di Malang kurang lebih 3 bulan. Ada banyak hal yang kudapat di kota ini, khususnya di UIN Maulana Malik Ibrahim. Mulai dari teman baru, orang dengan berbagai jenis kekurangan dan kelebihan masing-masing, tempat baru, suasana baru.
foto ini diambil pas aku dan sebagian teman kelas baru selesai mengikuti mata kuliyah dan hendak ke luar melalui lift.
Sesampainya di halaman depan kampus, ada yang berinisiatif untuk mengabadikan kebersamaan. Kebetulan waktu itu ada sekretaris prodi Ekonomi Syariah, Ust. Jalal, lalu kami ajak untuk foto bareng.
Posisi berdiri, tengah, mengenakan baju batik adalah Ust. Jalal yang dimaksud. Sedang yang lain adalah teman seangkatan. Sebenarnya jumlah kami yang merupakan angkatan pertama adalah 16 orang, cuman saat itu kebetulan tidak datang semua. Bersambung......
Thursday, June 26, 2014
DIA ADALAH ADIKKU
Tanggal 23 Juni kemarin ini adalah hari ulang tahunnya dan sebetulnya aku ingin merayakan itu, tapi sayang dia tak sedang di rumah. Saat itu dia tengah menikmati kesibukannya sebagai Pembina pramuka. Dia membina pramuka di 3 kesatuan gudep berbeda, padahal selain berstatus guru dia sedang menjabat sebagai pemimpin lembaga, yakni sebagai kepala Madrasah. Hanya orang berkrakter aktifis dan disiplin yang sanggup mengatur jadwal kegiatan seperti dia sekarang, maka tak heran jika dia menjadi panutan dan pantas kuacungi jempol. Dia memang pantas menerima pujian.
Hanya saja, namanya juga manusia yang tak bisa lepas dari kekurangan, ada hal yang kadang mengurangi kegantengan dia. Ketika dia menyikapi suatu permasalahan, sering mengedepankan emosi dan ammarah, sehingga sulit menerima keadaan dan pendapat orang lain. Seakan dia lebih dikuasai egonya dan telah menutupi cara berpikirnya yang adem dan sejuk, yang terjadi malah dengan pikiran panas membara. Ketika begitu, kuperhatikan pipinya sedikit tembem berisi, hidungnya kembang kempis, dan matanya agak redup tapi berkaca. Biasanya suara apa pun tak tertangkap telinganya, karena daun telinga indahnya itu sibuk dengan konser angin yang diciptakannya sendiri. Ini suatu kejadian yang sering dialami oleh orang kebanyakan, termasuk aku.
Sekarang dia berumur 21 tahun, usia remaja yang berapi-api namun kadang redup seketika. Di saat tertentu, semangatnya tentang perubahan berkibar indah, tapi di saat yang lain tiba-tiba lemes. Adalah keharusanku menjaganya tetap berkibar indah, menjaga dari segala kemungkinan terpaan angin besar berupa badai yang bisa-bisa merusak dia karena saking kenceng kibaran semangatnya dan mengantisipasi kalau-kalau angin tak ada. Itu artinya aku harus membawakannya kipas atau apalah jika diperlukan yang penting semangatnya berkibar indah, tidak terlalu kenceng atau lemes, sebab aku adalah kakaknya. Aku kakak yang masih malu mengakui sayang pada adiknya. Kakak yang tak bisa menatap wajah adiknya dengan rindu meluap kecuali saat dia terlelap.
Dia adikku, dan aku kakaknya. Ingin sekali aku merayakan ulang tahunnya dengan sangat spesial plus mewah dan megutarakan perasaan sayang dan rinduku selama ini. Ingin kukatakan, “Aku meindukan wajah lucu dan menggemaskan darimu, seperti wajah semasa kanak dulu.” Selamat Ulang Tahun Adikku, semoga Allah memberkahi umurmu dan meridhai cita-citamu, Amien.
Sasar, 24 Juni 2014











